Home » » Kita Akan Bawa Aceh Ke Meja Runding Lagi Jika TNI Masih Bergerya Di Aceh, Kata Ayah Meurante di Malaysia

Kita Akan Bawa Aceh Ke Meja Runding Lagi Jika TNI Masih Bergerya Di Aceh, Kata Ayah Meurante di Malaysia

Published by Atjeh Waa on Monday, 6 April 2015 | 13:36

Prajurit TNI AD menerobos hutan saat penyisiran kawasan Batee Pila, Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh. Rabu (26/3/15) ANTARA FOTO/Rahmad

WAA - Perdamaian Aceh dan Memorandum of Understanding di Helsinki 15 Agustus 2015 hampir genap 10 Tahun, tetapi butir-butir MoU tersebut belum sepenuhnya terinplementasi oleh pemerintah RI dan GAM sebaimana yang sudah tertera dalam nota kesepahaman.

Bukan hanya itu, tingkat memanasnya Aceh di era perdamaian dalam bungkus MoU Helsinki tak hanya di tahun politik saja, bangkitnya kelompok-kelompok bersenjata yang menentang kebijakan pemerintah Aceh di bawah kepimpinan Zaini -Muzakir (ZIKIR) pun kian tenar, namun benih pemicu konflik kembali mulai di pancing juga oleh sekelompok bersenjata, anggap saja nama kelompoknya "angin" yang menculik dan menembak dua intel kodim Aceh Utara di Kecamatan Nisam Antara hingga tewas pada Senin (23/3) bulan yang lalu.

Namun yang sangat mengherankan ribuan personil TNI/Polri dikerahkan untuk mencari gerombolan "angin" tersebut yang sampai sekarang belum juga di temukan siapa kelompok angin yang menewaskan 2 anggota TNI tersebut.

Disela-sela sibuknya pemerintah Aceh mengungkap siapa pelaku penculik yang menewaskan dua anggota TNI tersebut, Redaksi statusaceh.com mendapat kiriman Rillis dari email ayahmeurante@yahoo.com Senin 6 April 2015.

Njoë asoë Email dari Ayah Meurante :

"Malaysia 05-04-2015

Memandang keadaan yang semakin meruncing di Aceh, terutama di daerah Aceh Utara baroë-baroë njoë, telah membuat rakyat di daerah tersebut kembali merasa trauma dan umum djih ban sigoëm nanggroë. Hal ini disebabkan maraknya aktifitas TNI di daerah tersebut.

Alasan mereka untuk mencari orang yang telah membunuh dua anggota intel. Pertanyaannya, haruskan sebanyak itu dikerahkan pasukan TNI untuk mencari orang yang sama sekali tak jelas siapa pelakunya.

Sangat kita sayangkan tindakan yang di ambil oleh TNI ini. Seharusnya mereka tidak bertindak gegabah untuk menghadapi hal seperti itu. Apalagi melabelkan bahwa yang melakukan perbuatan keji itu adalah mantan anggota GAM.

Darimana TNI tau kalau yang melakukan perbuatan tersebut dilakukan oleh mantan GAM, bagaimana kalau perbuatan itu dilakukan oleh orang dari luar Aceh yang tidak suka akan kedamaian yang sedang dinikmati oleh rakyat Aceh.

Seharusnya TNI bisa lebih arif seperti wakil presiden kita Yusuf Kala yang mengatakan:
”sebenarnya tidak ada kaitannya dengan separatis. Saya cek ke Kapolri intinya seperti itu, ”kata Wapres di Istana Wakil Presiden di Jakarta, Jumat. Wapres mengatakan tindakan kriminal itu karena ada bebrapa oknum yang merampok memakai senjata mungkin ada senjata yang lama pada masa konflik” (http://www.harnas.co/2015/03/27/wapres-penembakan-tni-di-aceh-terkait-kriminal)

Pernyataan pernyataan seperti inilah yang seharusnya yang dilontarkan oleh pihak TNI, bukannya pertanyataan mengancam dan siap tempur. Seyogianya rakyat Aceh sudah tidak mau ada lagi huru hara di Aceh, karena perdamaian yang sudah ada sangatlah membuat senang rakyat Aceh.

Kelihatannya TNI bertindak terburu-buru dalam menyikapi hal itu. Anehnya anggota DPR RI juga ikut ikutan memanas manasi keadaan, malah Mahfudz Siddiq dengan jelas mengatakan bahwa yang beramin di Aceh ada keterlibatannya dengan GAM. (http://aceh.tribunnews.com/2015/03/26/tim-gabungan-dpr-ri-ke-aceh-terkait-penembakan-dua-prajurit-tni)

Nampak sekali bahwa saudara Mahfudz ini tak mengerti siapa GAM setelah penanda tanganan di Helsinki. Kepada saudara Mahfudz tolong baca lagi MoU Helsinki, tolong baca dengan teliti, siapa yang menandatangani persepahaman itu.

Kita sudah komit bahwa tak ada lagi pertelingkahan antara RI dan Aceh, dan hal ini harus kita jaga bersama.

Selama ini kami (GAM) sengaja memberikan teraju kepada RI untuk menjaga perdamaian ini dengan baik, sebab dari pertimbangan tersebut adalah, kami percaya RI sebagai negara yang besar dan menjunjung tinggi nilai hukum dan menghormati nilai kemanusiaan, dan kami merasa takkan ada lagi perasangka atau curiga terhadap Aceh.

Karena itu pulaklah kami pikir, tidak perlu terlalu banyak campur tangan GAM dalam urusan keamanan dan hal ehwal  Qanun dan UUPA, cukuplah DPRA dan DPRI yang menyelesaikan masalah itu, karena semua sudah tertera dalam MoU, tinggal di inplementasikan saja isinya kedalam UUPA,  ternyata pihak RI yang kita harap bisa lebih berperan menjaga perdamaian ini tak mampu menjaga perdamaian ini dengan baik.

Malah sekarang ini sudah mulai TNI semakin berani menampakkan taringnya kepada rakyat Aceh yang sama sekali sudah tidak mau lagi ribut dengan RI dan TNI. Pertamanya saya hanya membaca dan mengikuti perkembangan ini dengan teliti di media dan kabar dari saudara di kampung, dan harapan saya bahwa pihak RI akan cepat menindak hal ini agar tak membuat rakyat ketakutan.

Tetapi setelah saya perhatikan dari hari kehari keadaan semakin meruncing dan kelihatannya Aceh kembali dijadikan daerah operas imiliter, walaupun tak di umumkan secara resmi.

Sebab keadaan semakin parah inilah saya dan teman-teman sudah mengumpulkan data-data untuk kami kirimkan keperwakilan GAM yang ada di Europa, agar mengusahakan untuk membawa kembali masalah MoU ini ke meja perundingan di Helsinki atau di UniEuropa.

Karena kita sudah sepakat, kalau ada pertelingkahan yang tidak dapat diselesaikan, maka kita harus kembali lagi ke meja perundingan. RI tentu tau bahwa GAM tidak bubar, dan tak ada satu patah katapun dalam MoU yang telah kita sepakati mengatakan bahwa GAM segera dibubarkan setelah penandatanganan itu.

Dari beberapa pertemuan yang saya ikuti bersama Tgk Malik Mahmud, Karya Saman dan Doto Zaini, baik di Aceh atau di Malaysia, mereka selalu mengatakan bahwa GAM tidak akan pernah dibubarkan selagi Aceh belum selesai seperti yang telah kita sepakti bersama dengan RI.

Setelah semua isi MoU itu terimplementasi di Aceh, maka kita akan tanya rakyat Aceh, apakah GAM itu perlu terus ada atau kita bubarkan secara bersama.

Dengan penjelsan itupulalah saya ”Ayah Meurante” memberanikan diri untuk membantah semua tudingan pihak RI kepada GAM. Kami dari GAM (Gerakan Aceh Merdeka) tidak pernah melakukan tindakan kriminal, Kalau ada mantan GAM, yang melakukan tindakan kriminal, maka tempuhlah jalur hukum kepada mereka. Mantan GAM berarti mereka bukan lagi anggota GAM yang komit dengan perdamaian yang telah kita sepakati bersama.

Sebagai organinasasi yang cinta damai kami dari GAM menghargai keputusan mereka untuk menentukan prisip dan sikap, karena pilihan itu adalah urusan pribadi. Jadi sekali lagi kami harap kepada pihak RI agar jangan menyangkut pautkan anggota GAM dengan mantan GAM, apalagi dengan mereka yang membuat kriminal.

Disebabkan tuduhan yang tidak munasabah tehadap kami GAM,  kámi akan mencoba untuk menempuh kembali jalur berunding dengan pihak, tujuannya agar permasalahan ini tidak berlarut larut dan perdamaian ini tidak ternodai oleh orang kriminal dan mantan GAM.

Salam perdamaian dari Ayah Meurante (T.Saed Azhar)


Komentar
 
-->